Rabu, 19 Oktober 2011

Rihlah Ruhaniyah yang Menyenangkan


”Tidak dianjurkan untuk melakukan rihlah atau kunjungan ke suatu tempat, kecuali ke tiga masjid (saja), yaitu Masjidil Haram, Masjidku (Masjid Nabawi) dan Masjid Al-Aqsha” (HR. Imam Muslim)
Nikmati Perjalanan

Saat kita keluar rumah hendak berangkat ke Tanah Suci, kita berdoa; “Bismillahi tawakkaltu ‘alallah laa haula walaa quwwata illaa billah. Dengan menyebut nama Allah, saya tawakkal, saya pasrahkan diri kepada Allah, yang tidak ada daya dan upaya kecuali dari-Nya.”
 
Doa ini sekali lagi menguatkan niat ikhlas dan pasrah kita kepada Allah swt. Kesadaran ini sangat penting, karena dalam perjalanan dan proses ibadah ini kita akan menemukan beragam peristiwa, baik yang menyenangkan atau yang tidak menyenangkan dan akan bertemu dengan berbagai umat Islam dari seluruh penjuru dunia yang jumlahnya ratusan ribu, bahkan jutaan orang. Kesadaran ini kita tanamkan dalam diri kita saat berangkat, di perjalanan, di Tanah Suci, bahkan ketika kita kembali ke tanah air lagi.

Saat kita berada di bandara di tanah air, adalah boleh jadi waktu yang membosankan, karena menunggu cukup lama. Di sini, hendaknya kita gunakan waktu sebaik-baiknya untuk banyak-banyak berdzikir kepada Allah swt. atau tilawah Al-Qur’an -seyogyanya jama’ah membawa Mushhaf Al-Qur’an saku yang bisa dibaca setiap saat atau memanfaat HP yang di dalamnya ada fitur Al-Qur’an atau mendengarkan tilawah Al-Qur’an dari HP dengan memakai headset-. 

Biasanya kita dibagi tas kecil oleh travel, nah upayakan tas tersebut selalu menemani kita. Kita taruh di dalamnya perlengkapan seperti mushhaf, tasbih, buku panduan, buku saku doa-doa, mungkin juga obat-obatan ringan, juga identitas diri dan lain-lain.

Saat naik pesawat, tentu terlebih dahulu kita membaca doa safar dan doa naik kendaraan. Delapan jam kira-kira kita berada di dalam pesawat, waktu yang sangat panjang. Gunakan untuk istirahat yang cukup, untuk menikmati pemandangan ciptaan Allah swt. yang manakjubkan di alam maya pada ini, dengan terus menghiasi lisan kita dengantasbihtahmid dan takbir.

Saat turun dari pesawat, tanda sudah sampai di Saudi, kita ucapkan: “Alhamdulillah, segala puji hanya untuk Allah swt. yang memudahkan perjalanan ini.” Dengan sabar dan terus dalam kondisi dzikrullah proses di bandara kita jalani. Sesuai pengalaman, pemeriksaan ke-Imigrasian di bandara membutuhkan waktu yang cukup lama, bisa dua jam sampai bahkan lima jam. Dibutuhkan kesabaran berlipat. Tapi tenanglah! Jangan sampai stress mengalahkan kita. Dalam kondisi seperti ini kembali kita perbanyak berdzikir kepada Allah swt. dan bershalawat atas Nabi Muhamamd saw. Lewati suasana itu dengan santai, kalau perlu gelar koran sambil duduk membaca Al-Qur’an, tentu jangan sampai pisah dari rombongan, tercecer bahkan tertinggal. Untuk memudahkan dan saling membantu, pilih satu atau dua orang atau lebih dari teman kita –mungkin yang satu kamar di hotel dengan kita- yang nanti akan turut serta dalam setiap perjalanan, untuk saling membantu dan saling menjaga.

Perjalanan naik transportasi darat dari Jeddah menuju Mekah atau menuju Madinah juga membutuhkan waktu. Ingatlah juga suasana bahwa perjalanan kita ini adalah bagian dari rihlah, atau wisata; baik wisata ruhaniwisata jasmani, juga wisata fikri. Karena itu nikmatilah!. Teruslah bersyukur kepada Allah swt.

Ketika kita sampai di penginapan atau hotel, tetaplah bersabar untuk sampai mendapatkan kamar istirahat. Kedepankan berhusnuzhzhan atau berbaik sangka kepada Allah swt., berbaik sangka kepada panitia, juga kepada tuan rumah. Berpikirlah positif!. 

Rebahkan diri saat mendapatkan kamar dan beristirahatlah sejenak, dengan terus bersyukur kepada Allah swt. atas nikmat perjalanan ini. Suatu rihlah mumt’iah, perjalanan yang menyenangkan bukan!?.

Jenak-Jenak di Tanah Haram

Ingat, tujuan utama kita ke Tanah Suci yaitu melaksanakan ibadah kepada Allah swt. Karena itu, kendalikan waktu dengan sebaik mungkin untuk digunakan beribadah di tempat-tempat yang utama dan waktu-waktu yang sangat istimewa.

Tetap jaga kondisi fisik kita dengan memakan makanan yang cukup. Tetap jaga kondisi ruhani kita dengan tilawatul Qur’an -lebih bagus juga dengan membaca terjemahnya- dan mengikuti ta’lim atau mauizhah yang diselenggarkaan oleh panitia. Jaga juga kantong kita, alias menyiapkan uang untuk bersedekah. Bersedekah pahalanya berlipat, dan Allah swt. pasti akan menggantinya dengan yang jauh lebih baik, insya Allah.

Saat keluar dari hotel menuju Haram atau sebaliknya, tetaplah dalam kondisi berdzikir, beristighfar, bertasbih, bertahmid, bertahlil, bertakbir, bershalawat atas Nabi saw. dan juga menjaga pandangan, sebab di Haram kita akan bertemu ribuan umat Islam; muslim dan muslimah, jangan sampai mata kita tidak bisa dikendalikan. Perbanyaklah beristighfar!.

Saat kita tiba di Masjid, awali dengan membaca doa masuk masjid, kemudian lakukan shalat tahiyyatal masjid, atau shalat sunnah yang lain, berdzikir atau membaca Al-Qur’an. Kalau bisa khatam di Haram, wabiha wani’mah itu menjadi nikmat yang luar biasa. Jangan sampai waktu terbuang dengan sia-sia dengan obrolan yang tidak berguna. Kita ingat, bahwa kita sedang di tempat yang dilipat gandakan kebaikan dan pahala. Usahakan kita tidak tergerus atau dilenakan oleh keramaian di Haram. Bahkan, sibukkan diri dengan munajat kepada Allah swt. Coba kita lakukan kontemplasi atau renungan di tengah keramaian itu, dan focus tertuju kepada-Nya, seakan kita dalam kesendirian. Hadirkan keagungan Allah swt. Tampakkan ragam kenikmatan-Nya. Rasakan dan sadari kekurangan dan dosa-dosa yang telah kita lakukan. Dan, menagislah di hadapan Ilahi Rabbi. Bukan tangisan cengeng, tapi tangisan penyesalan dan tangisan syukur sekaligus.

Saat menanti shalat berjama’ah, gunakan waktu-waktu mahal ini dengan banyak-banyak berdoa kepada Allah swt. Waktunya singkat, namun di sinilah waktu yang mustajab -waktu dikabulkannya doa-.

Saat shalat berjama’ah dilaksanakan, berdiri tegaklah, luruskan shaf dan rapatkan kaki kita dengan kaki samping kiri-kanan kita. Sadari bahwa sesama muslim atau muslimah adalah bersaudara, layaknya satu tubuh. Rasakan sentuhan ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan dalam Islam. Ketika hati kita tulus-ikhlas, meski kita tidak mengetahui apa maksud yang dibaca oleh imam, tapi yakinlah bahwa getaran ayat-ayat suci bisa meluluhkan qalbu kita, lantunan tilawah Al-qur’an mampu melunakkan hati kita, tak terasa air mata kita menetes. “Dua mata yang tidak akan pernah disentuh oleh api neraka; Mata yang digunakan untuk berjaga atau bertugas menjaga keamanan di jalan Allah swt. dan mata yang menangis karena takut kepada-Nya.” begitu janji Rasulullah saw.

Selesai shalat, kita baca doa-doa bakda shalat. Jangan lekas beranjak keluar, sebab biasanya muadzin akan mengumumkan: “Ash-shalatu ‘alal amwati yarhamukumullah, atau Ash-shalatu ‘alal amwati watt-thifli yarhamukumullah, artinya Mari laksanakan shalat jenazah, amwat artinya orang yang meninggal dunia, usia dewasa lebih dari satu. Dan juga athfal artinya shalat janazah untuk anak-anak”.

Subhanallah, baik di Haram Madani atau di Haram Makki, selalu saja setiap bakda shalat fardhu ada shalat jenazah.“Innaa lillahi wainnaa ilahi raaji’uun, kita semua milik Allah, dan kita semua akan kembali kepada-Nya.” Kita tidak mengetahui, kapan ajal kita akan datang?. Kita juga tidak mengetahui, di mana kita akan dipanggil Allah swt. di tanah air atau di Tanah Suci?. Kematian adalah nasehat yang cespleng buat orang beriman. Rasulullah saw. mengingatkan kita: “Cukuplah kematian itu sebagai pengingat.”Lakukanlah shalat jenazah, dan berdoalah juga untuk orang-orang tercinta kita yang telah mendahului kita; bapak-ibu kita, kakek-nenek kita, saudara-saudara kita. Doa kita akan menjadi penerang di alam kubur mereka, biidznillah.

Selesai sahalat jenazah, lakukan shalat sunnah bakdiyah –selain shalat Ashar atau Subuh-. Dan perbanyaklah berdoa. 

Kalau semua waktu untuk beribadah, kapan dong belanjanya? Kapan dong jalan-jalannya? Kapan dong santainya? 

Ini adalah pertanyaan yang wajar. Biasanya untuk hal-hal seperti ini panitia atau travel sudah mengarahkan dan membuat jadwal buat kita. Jadwal-jadwal itu ditetapkan berdasarkan pengalaman mereka, sehingga kita ikuti jadwal tersebut. Atau kegiatan tersebut bisa dilakukan secara pribadi-pribadi, misalkan kalau mau belanja, lakukan setelah shalat Ashar. Dan agar kita tidak capek dalam belanja, hendaknya kita tulis atau kita cacat kebutuhan kita atau oleh-oleh yang akan kita beli. Usahakan jangan sendiri dalam berbelanja, paling tidak dua orang atau lebih, terutama bagi muslimah!.

Niatkan I’tikaf

Kalau jadwal ibadah dan kegiatan ziarah kita sudah tersusun dan sudah terbiasa kita jalankan, maka kita tidak mudah terpengaruh dengan tarikan-tarikan lain, atau keramaian Haram yang ada. Masing-masing waktu mempunyai kegiatannya tersendiri. Biasakan menyendiri dengan Allah swt. dalam keramaian sekalipun. 

Oleh karena itu, niatkan untuk beri’tikaf di Masjid, meskipun tidak lama. Niatkan untuk shalat malam di masjid, meski dua rekaat dan ditutup shalat witir. Niatkan untuk shalat subuh berjama’ah di masjid dan lanjutkan dengan dzikir pagi hari atau membaca Al-Qur’an sampai waktu syuruq –waktu matahari terbit-, kemudian selang lima belas menit lakukan shalat sunnah awal Dhuha dua rekaat. Jika kita lakukan hal demikian nilai pahalanya seperti umrah; sempurna, sempurna, sempurna kata Nabi Muhammad saw. dalam hadits sahih.

Itulah hidangan ruhani yang Allah swt. suguhkan kepada kita. Itulah jamuan iman yang Allah swt. persembahkan kepada kita. Jika demikian, tentu kita tidak akan pernah menyia-nyiakannya bukan!?.
Semua waktu biidznillah akan bernilai ibadah. Anggota badan kita juga akhirnya terbiasa dengan melakukan berbagai macam ibadah dan taqarrub ilallah. Inilah rahasia perubahan pasca melaksanakan ibadah umrah; perubahan menjadi lebih baik dari sebelumnya, karena waktu dan anggota tubuh kita sudah terbiasa dalam kebaikan. Wallahu Waliyyut taufiq. []

sumber :Gus Ulis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar