Rabu, 07 November 2012

Renungan Ruhani


Jannatul Iman


Asslamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله تعالى من شرور أنفسنا وسئات أعمالنا. من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادى له. وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبد ه ورسوله.

            
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Ali-Imran: 133)


Ikhwah fillah… tamassaku bidinikum! tamassaku bidakwatikum! tamasaku biakhlakikum! Fa-inna a’da-a Allah wa a’da-akum ya’tamiru ‘alaikum.
(berpegang teguhlah kepada din-mu, berbegang teguhlah kepada dakwahmu, berpegang teguhlah kepada akhlakmu. Sesungguhnya musuh-musuh Allah dan musuh-musuhmu senantiasa melakukan propaganda kepadamu)
Pada taujih yang lalu saya menyampaikan tentang Hayatun Thayyibah, dan pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan tentang Jannatul Iman. Banyak manusia yang tidak menyadari bahwa dalam dirinya memiliki potensi iman. Semestinya kalau dia bisa menata keimanannya akan menjadi sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya. Karena sumber kehabagiaan, kelegaan, ketenangan, jiwa merdeka dan keceriaan itu sesungguhnya berada dalam diri manusia itu sendiri. Sehingga dirinya tidak diarahkan kepada suatu arah yang tidak membawa kepada ketenangan, tetapi kearah yang membuat dirinya resah. Sebenarnya dalam diri manusia itu dibutuhkan kemandirian dalam beriman. Sebab sebaik apapun sarana –namun hal ini sangat dibutuhkan- yang ada untuk menumbuhkan keimanan apabila tidak disertai kesadaran, pemahaman dan kesungguhan selama itu juga iman itu tidak menjelma menjadi kekuatan dalam dirinya. Apalagi kalau manusia itu tidak lagi tertarik dengan miliu (bi-ah) yang shaleh dan tidak pula dibarengi dengan menggunakan segala kekuatan imannya, maka seseorang itu akan lebih tidak mendapatkan keimanannya. Jadi antara sarana (bi-ah shalihah) dan iradah qawiyyah dalam rangka memelihara dan menumbuhkan keimanan tetap sangat dibutuhkan.
Manusia harus mengetahui fenomena keimanan dalam dirinya, bila tidak lagi merasakan kelezatan dalam beribadah, malal (jenuh-malas) dalam merealisasi anjuran-anjuran Islam, tidak bersemangat ketika menegakkan ibadah, dan tidak memiliki pengaruh dalam dirinya ketika membaca al-Quran serta lebih cenderung kepada perbuatan yang dilarang oleh Allah. Inilah beberapa fenomena atau tanda-tanda bahwa iman itu sedang turun. Lebih fatal lagi kalau manusia itu tidak bisa menikmati dan memaknai arti dan tujuan hidupnya. Selanjutnya yang terbaik adalah kita segera mencari jalan keluar atau obatnya dan tidak boleh membiarkan dirinya dalam keadaan seperti ini. Hal ini yang dilakukan oleh salafus-shaleh; Bagaimana Imam Syafi’i ketika mengalami penurunan masalah dalam diri beliau –yaitu tentang buruknya hafalannya - langsung mengadu kepada seorang ulama besar al-Waqi’. Kemudian al-Qaqi’ menasehatinya; ”Tinggalkanlah perbuatan maksiat”.
Memang fluktuasi iman dalam diri manusia itu tetap ada, namun sejauhmana dia mampu untuk mengisinya dengan amal sebaik mungkin ketika imannya baik dan dia mampu pula mengendalikan dirinya dengan sekuat tenaga sehingga tidak terjerumus dalam berbuatan maksiat walaupun saat itu imannya sedang menurun.

Surga Dunia
Perhatikan ungkapan Ibnu Taimiyah; ”Sesungguhnya seorang mukmin tidak bisa merasakan surga dunia apabila tidak merasakan janntul iman. Dengan cara menerima keridhaanNya atas segala ketetapanNya. Memenuhi dan merasakan kehidupannya penuh dengan nikmat Alah baik dalam keadaan lapang dan sempit. Harus kita tanamkan keyakinan dalam diri kita bahwa jannatud-dunya tidak terealisasi dan tidak pernah akan terwujud untuk selamanya kecuali di bawah naungan keimanan kepada Allah dan ridha kepada-Nya”.
Suatu ketika Ibnu Hajar al-Asqalani saat itu menjabat sebagai qadhi di Mesir, disaat beliau sedang berjalan dengan mengenakan pakaian kebesarannya serta mengendarai kendaraannya mendadak diberhentikan oleh seorang Yahudi tampak lusuh dan miskin. “Berhenti! Wahai Tuan. Tolong jelaskan kepada saya tentang hadits yang disampaikan oleh Nabi kalaian; “Dunia adalah surganya orang kafir dan penjara bagi orang mukmin”. Kenapa Anda memakai pakaian yang indah dan hidup berkecukupan, sementara saya dalam keadaan miskin dan sengsara.”. Ibnu Hajar Al-Asqalani menjawab: ”Nikmat yang saya rasakan ini belum seberapa apabila dibandinhkan dengan nikmat yang akan diberikan oleh Allah kepada seorang mukmin di surganya kelak. Dan bagi orang yang kafir apabila sampai ajalnya tidak bertaubat maka di akhirat akan merasakan siksaan”.
Ini sebuah pemaknaan dan penafsiran yang jitu dan jeli atas hadits Nabi saw tersebut, dengan memberi pengertian yang esensi ini kita bersikap dengan bijak atas kehidupan ini. Esensi kebahagiaan hidup tidak terletak pada kaya atau miskin belaka, namun dia berada dalam jiwa manusia yang dipenuhi dengan keimanan.

Kebahagiaan Hakiki
Banyak manusia mencari kebahagiaan itu, tetapi terkadang tidak mengetahui dimana berada dan dengan jalan seperti apa. Sementara pada saat ini Allah telah memberikan peluang kepada kita berada di jalan kebenaran dan dakwah ini. Jangan kita relakan dia pergi meninggalkan kita, rindukan dia selalu dan untuk selamanya. Peganglah erat-erat dengan sekuat tenaga jika sedang bersemayam dalam dirimu dan berjuanglah dengan segala upaya apabila dia hendak terlepas dari dirimu. Karena dengan kebahagiaan yang hakiki –di dunia- ini adalah syarat seorangpun akan merasakan kebahagiaan di akhiratnya.
Kebahagiaan adalah sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh mata, tidak bias dijelaskan oleh kalam/perkataan, tidak bias diketahui berapa beratnya oleh timbangan, dan tidak bias dibeli oleh dinar dan rupiah. Tetapi adalah sesuatu yang bisa dirasakan oleh manusia dari segala sisinya, yang ditandai dengan kesucian/kejernihan jiwanya, ketenangan dalam hatinya, yang lapang dadanya dan merasa bahagia perasaannya. Ia bersemayam rapi dalam diri manusia dan tidak sesumbar diluar dirinya. Ia senantias berkorban dan memberi. Jiwa akan merasa bahagia apabila menegakkan suatu amal yang baik. Hanya mengharap dari apa yang dikerjakan oleh amal dhahir balasan dari Allah semata. Tertanam/terpatri dalam dirinya perasaan yang mendalam atas ridha dan qonaahnya. Sangat suka/hobinya selalu membuat gembira hati saudaranya, selalu terpancarkan senyuman dalam wajahnya, selalu merasa beruntung ketika melayani siapapun, dan senantiasa mengutamakan kepuasan rasa ketika berbuat baik kepada saudara seiman. Segera memalingkan pemikirannya dari pikiran negatif. Ia sangat baik mendidik anak-anaknya (penuh kasih sayang), dengan sabar membimbing dan menumbuhkan mereka dengan cinta kepada Allah dan RasulNya. Selalu mengambil ilmu yang bermanfaat dan selalu berbuata yang baik (bermanfaat). Menjauhkan sejauh-jauhnya perasaan ghil, hasad, dengki, dan emosi serta selalu memalingkan pandangannya dari sesuatu yang tidak bermanfaat untuk akhiratnya.
            
Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan”. (al-Furqan 63)


Awali Harimu dengan Rasa Cinta
Ketika di pagi hari cintailah pagi harimu, ketika dihari kerjamu cintailah pekerjaanmu, ketika di siang hari cintailah siang harimu, ketika di sore hari cintai sore harimu, ketika di malam hari cintailah malam harimu, sehingga tidak ada waktu yang luput dari rasa cinta yang mendalam. Demikian juga ketika bersama keluarga cintailah keluaragamu, orang-tua, istri, anak-anak, mertua dan keluarga besarmu. Cintai pula saudara-saudaramu seiman, cintailah amanah dakwahmu, cintailah mereka yang ingin menegakkan kebenaran, dan cintailah jamaah-jamaah yang berupaya menegakkan agama Allah. Oleh karena itu, pastikan dalam dirimu tidak ada sedikitpun kebencian, kedengkian sebesar apapun, dan rasa malas kepada apa yang baik dan kepada siapa saja yang berbuat baik. Tanamkan pula dalam diri kita kecemburuan atas orang-orang yang shaleh dan berupayalah untuk meneladaninya.

Ikhwah fillah... tentu semua itu harus diawali dengan kecintaan kita kepada Allah, dan sangat lebih cinta kita dibandingkan dengan yang lain, mencitai RasulNya dan mencintai din-Nya lebih dari mencintai diri kita sendiri.
Orang mukmin seperti inilah yang merdeka bebas karena semua bukan merupakan beban tetapi merupakan kepuasan dirinya dan akahirnya akan sangat merindukan, hari-harinya, merindukan keluarganya, merindukan pekerjaanya, merindukan saudara-suadaranya seiman, merindukan tugas-tugas dakwahnya, merindukan tegaknya Islam di muka bumi dan yang terbesar kerinduannya adalah rindu bertemu dengan Rabb-Nya.
                         
Katakanlah: Sesungguhnya Aku Ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya". (al-Kahfi 110)


Tumbuhkan Selalu Semangat dan Keberanian
Perhatikan semangat al-Fatih ketika menaklukan Qanstantiniah, saat itu dia dengan pasukannya sedang terjepit dipinggir hutan. Sementara dipihak musuh selalu melampari mereka dengan anak panah dari api dan terbakarlah hutan tersebut. Bahkan hampir-hampir api itu membakar pasukannya. Tetapi al-Fatih tidak gentar kemudian menyerukan kepada pasukannya: ”Wahai Para mujahidin, jadilah kalian jundullah dan jadilah kalian orang-orang yang menjaga agama Islam”. Pada akhirnya terbakar semangat pasukannya dan mereka menyebarangi hutan yang sangat berbahaya hingga beberapa hari dalam pertempuran tersebut dan kemenangan pun diraihnya.
Akhi... saya mendengar sebuah cerita seorang Muslim Palestina yang cukup menjadi pelajaran bagi kita. Ada sebuah keluarga ketika baru saja rumahnya dibombardir oleh Yahudi laknatullah, mulailah seorang ayah memperbaiki rumahnya tetapi belum sampai sempurna bangunannya, kembali tentara Yahudi menghujaninya dengan bom. Hal demikian berulangkali, sampai pada suatu saat salah satu anaknya memberikan usul kepada ayahnya. ”Wahai Ayah. Tidak perlulah dilanjutkan bangunan rumah kita ini”. Ayah dengan rasa terkejut menimpali perkataan anaknya; ”Lantas kita akan tinggal di mana?” Spontan anak tersebut menjawab; ”Lebih baik kita tinggal di surga saja yang penuh dengan kedamaian”. Kemudian dipeluknya anak dengan kegaguman, baru berumur 9 tahun tetapi pola pikir sudah dewasa, aqidah bersih dan murni. Terbersit dalam dirinya semangat dan keberanian untuk menegakkan kebenaran walaupun taruhannya nyawa dan tegar menghadapi segala tantangan dalam hidupnya serba tidak pasti.
Akhi ...fillah. Alhamdulillah negeri kita dalam keadaan aman, kehidupan kita cukup untuk mempertahankan keluarga kita, peluang terbentang dihadapan kita dan tantangan yang kita hadapi tidak seberat sebagaimana cobaan saudara kita yang lain. Tetapi kenapa tadhiyah kita lemah? Kenapa semangat kita menurun? Allah akan tersenyum kepada hambanya apabila dalam kesulitan tetapi dia senantiasa berusaha untuk berbuat kebaikan. Rahmat-Nya pun sangat luas dan pengampunan-Nya sangat luas juga. Oleh karenanya dalam sebuah hadits Nabi saw; bahwa rasa senangnya Allah bagi hambaNya yang bertaubat dari kesalahan melebihi seseorang yang kehilangan perbekalan bersama ontanya yang hilang disebuah padang pasir/hutan kemudian mendadak mendatangi dirinya setelah letih mencarinya kemana-mana.

Pelihara Keshalehan
Shaleh itu adalah apabila seseorang itu mampu merealisasikan hak-hak dirinya dengan orang lain dengan baik dan merealisasikan hak-hak dirinya dengan Rabbnya dengan baik pula. Oleh karenanya mewujudkan lingkungan yang mendukung kebenaran adalah menjadi suatu tuntutan mutlak bagi seorang mukmin. Demikian juga bersamanya dirinya dalam sebuah lingkungan yang mencintai kebenaran adalah juga mutlak, dan akan lebih baik walaupun di dalamnya mungkin belum terlalu ideal atau diantara mereka terdapat perbedaan pendapat. Tetapi walau demikian Usrah adalah tetap merupakan tempat terbaik –karena telah melahirkan pribadi-pribadi ikhlas, diantara mereka telah syahid, diantara mereka masih tetap tegar keluar masuk penjara dan keluarga-keluarga mereka cerminan pribadi yang mencintai kebenaran- apabila dibandingkan dengan sifat idealis kita. Allah dan RasulNya mencintai hambanya yang berjamaah dalam kebenaran. Oleh karenanya Allah menetapkan dalam syari’atNya bahwa hidup berjamaah merupakan ajaran yang tsawabith (ajaran yang bersifat mutlak tidak bisa dirubah), hal ini telah dicontahkan oleh Rasul saw dan para sahabatnya. Berarti berjamaah bagi seorang muslim adalah tuntutan syatri’at, yaitu tidak boleh ditinggalkan, karena kewajibannya seperti mengerjakan shalat. Bukan suruhan murabbi, bukan instruksi naqib dan bukan pula qarar dari jamaah, tetapi memang tuntutan asasiah seorang muslim sebagai hamba Allah. Maka murabbi, naqib dan jamaah adalah memberikan sarana agar aktifitas seorang muslim itu terarah dan bermanfaat bagi orang lain.
Akhi fillah... Umat Islam –secara hakiki- saat ini sangat membutuhkan bantuan kita, mereka merintih membutuhkan pertolongan. Mereka beradaan dalam kelemahan aqidah, keteledoran dalam akhlak, mereka tercerai berai dan mereka pula tidak memiliki arah hidup yang jelas. Sementara antum dan diantara antum memiliki potensi yang sangat bermanfaat bagi orang lain, tetapi barangkali antum tidak menyadarinya. Oleh karena saya mengajak antum untuk memaksimalkan potensi itu. Jangan merasa tidur nyenyak, sementara saudara-saudara kita yang lain hidup dalam kegelisahan karena kekeroposan aqidah, kegelisahan dalam penindasan orang lain.
Terakhir, mari kita berharap kepada Allah agar kita, keluarga kita dan suadara-suadara kita seiman dikuatkanNya dalam meniti jalan kebenaran hingga sampai kesuksesan cita-cita diakhir hayat kita. Wallahu a’lam bishawab.

Afwa minkum. Akhukum fillah Sujiat.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Kairo, 2 Shafar 1429/9 Pebruari 2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar