Jannatul
Iman
Asslamu’alaikum
warahmatullahi wabarakatuh
إن
الحمد لله نحمده ونستعينه
ونستغفره ونعوذ بالله تعالى من شرور
أنفسنا وسئات أعمالنا.
من
يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادى
له. وأشهد
أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد
أن محمدا عبد ه ورسوله.
“Dan
bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang
luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang
bertakwa.” (Ali-Imran:
133)
Ikhwah
fillah… tamassaku bidinikum! tamassaku
bidakwatikum! tamasaku biakhlakikum! Fa-inna
a’da-a Allah wa a’da-akum ya’tamiru ‘alaikum.
(berpegang
teguhlah kepada din-mu, berbegang teguhlah kepada dakwahmu, berpegang
teguhlah kepada akhlakmu. Sesungguhnya musuh-musuh Allah dan
musuh-musuhmu senantiasa melakukan propaganda kepadamu)
Pada
taujih yang lalu saya menyampaikan tentang Hayatun
Thayyibah, dan pada kesempatan ini saya
ingin menyampaikan tentang Jannatul
Iman. Banyak manusia yang tidak
menyadari bahwa dalam dirinya memiliki potensi iman. Semestinya kalau
dia bisa menata keimanannya akan menjadi sesuatu yang sangat
berharga dalam hidupnya. Karena sumber kehabagiaan, kelegaan,
ketenangan, jiwa merdeka dan keceriaan itu sesungguhnya berada dalam
diri manusia itu sendiri. Sehingga dirinya tidak diarahkan kepada
suatu arah yang tidak membawa kepada ketenangan, tetapi kearah yang
membuat dirinya resah. Sebenarnya dalam diri manusia itu dibutuhkan
kemandirian dalam beriman. Sebab sebaik apapun sarana –namun hal
ini sangat dibutuhkan- yang ada untuk menumbuhkan keimanan apabila
tidak disertai kesadaran, pemahaman dan kesungguhan selama itu juga
iman itu tidak menjelma menjadi kekuatan dalam dirinya. Apalagi kalau
manusia itu tidak lagi tertarik dengan miliu (bi-ah)
yang shaleh dan tidak pula dibarengi dengan menggunakan segala
kekuatan imannya, maka seseorang itu akan lebih tidak mendapatkan
keimanannya. Jadi antara sarana (bi-ah
shalihah) dan iradah
qawiyyah dalam rangka memelihara dan
menumbuhkan keimanan tetap sangat dibutuhkan.
Manusia
harus mengetahui fenomena keimanan dalam dirinya, bila tidak lagi
merasakan kelezatan dalam beribadah, malal
(jenuh-malas) dalam merealisasi anjuran-anjuran Islam, tidak
bersemangat ketika menegakkan ibadah, dan tidak memiliki pengaruh
dalam dirinya ketika membaca al-Quran serta lebih cenderung kepada
perbuatan yang dilarang oleh Allah. Inilah beberapa fenomena atau
tanda-tanda bahwa iman itu sedang turun. Lebih fatal lagi kalau
manusia itu tidak bisa menikmati dan memaknai arti dan tujuan
hidupnya. Selanjutnya yang terbaik adalah kita segera mencari jalan
keluar atau obatnya dan tidak boleh membiarkan dirinya dalam keadaan
seperti ini. Hal ini yang dilakukan oleh salafus-shaleh; Bagaimana
Imam Syafi’i ketika mengalami penurunan masalah dalam diri beliau
–yaitu tentang buruknya hafalannya - langsung mengadu kepada
seorang ulama besar al-Waqi’. Kemudian al-Qaqi’ menasehatinya;
”Tinggalkanlah perbuatan maksiat”.
Memang
fluktuasi iman dalam diri manusia itu tetap ada, namun sejauhmana dia
mampu untuk mengisinya dengan amal sebaik mungkin ketika imannya baik
dan dia mampu pula mengendalikan dirinya dengan sekuat tenaga
sehingga tidak terjerumus dalam berbuatan maksiat walaupun saat itu
imannya sedang menurun.
Surga
Dunia
Perhatikan
ungkapan Ibnu Taimiyah; ”Sesungguhnya
seorang mukmin tidak bisa merasakan surga dunia apabila tidak
merasakan janntul iman. Dengan cara menerima keridhaanNya
atas segala ketetapanNya. Memenuhi dan
merasakan kehidupannya penuh dengan nikmat Alah baik dalam keadaan
lapang dan sempit. Harus kita tanamkan keyakinan dalam diri kita
bahwa jannatud-dunya tidak terealisasi dan tidak pernah akan terwujud
untuk selamanya kecuali di bawah naungan keimanan kepada Allah dan
ridha kepada-Nya”.
Suatu
ketika Ibnu Hajar al-Asqalani saat itu menjabat sebagai qadhi di
Mesir, disaat beliau sedang berjalan dengan mengenakan pakaian
kebesarannya serta mengendarai kendaraannya mendadak diberhentikan
oleh seorang Yahudi tampak lusuh dan miskin. “Berhenti! Wahai Tuan.
Tolong jelaskan kepada saya tentang hadits
yang disampaikan oleh Nabi kalaian; “Dunia adalah surganya orang
kafir dan penjara bagi orang mukmin”. Kenapa Anda memakai pakaian
yang indah dan hidup berkecukupan, sementara saya dalam keadaan
miskin dan sengsara.”. Ibnu Hajar Al-Asqalani menjawab: ”Nikmat
yang saya rasakan ini belum seberapa apabila dibandinhkan dengan
nikmat yang akan diberikan oleh Allah kepada seorang mukmin di
surganya kelak. Dan bagi orang yang kafir apabila sampai ajalnya
tidak bertaubat maka di akhirat akan merasakan siksaan”.
Ini
sebuah pemaknaan dan penafsiran yang jitu dan jeli atas hadits Nabi
saw tersebut, dengan memberi pengertian yang esensi ini kita bersikap
dengan bijak atas kehidupan ini. Esensi kebahagiaan hidup tidak
terletak pada kaya atau miskin belaka, namun dia berada dalam
jiwa manusia yang dipenuhi dengan keimanan.
Kebahagiaan
Hakiki
Banyak
manusia mencari kebahagiaan itu, tetapi terkadang tidak mengetahui
dimana berada dan dengan jalan seperti apa. Sementara
pada saat ini Allah telah memberikan peluang kepada kita berada di
jalan kebenaran dan dakwah ini. Jangan kita relakan dia pergi
meninggalkan kita, rindukan dia selalu dan untuk selamanya. Peganglah
erat-erat dengan sekuat tenaga jika sedang bersemayam dalam dirimu
dan berjuanglah dengan segala upaya apabila dia hendak terlepas dari
dirimu. Karena dengan kebahagiaan yang hakiki –di dunia- ini adalah
syarat seorangpun akan merasakan kebahagiaan di akhiratnya.
Kebahagiaan
adalah sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh mata, tidak bias
dijelaskan oleh kalam/perkataan, tidak bias diketahui berapa beratnya
oleh timbangan, dan tidak bias dibeli oleh dinar dan rupiah. Tetapi
adalah sesuatu yang bisa dirasakan oleh manusia dari segala sisinya,
yang ditandai dengan kesucian/kejernihan jiwanya, ketenangan dalam
hatinya, yang lapang dadanya dan merasa bahagia perasaannya. Ia
bersemayam rapi dalam diri manusia dan tidak sesumbar diluar dirinya.
Ia senantias berkorban dan memberi. Jiwa akan merasa bahagia apabila
menegakkan suatu amal yang baik. Hanya mengharap dari apa yang
dikerjakan oleh amal dhahir balasan dari Allah semata.
Tertanam/terpatri dalam dirinya perasaan yang mendalam atas ridha dan
qonaahnya. Sangat suka/hobinya selalu membuat gembira hati
saudaranya, selalu terpancarkan senyuman dalam wajahnya, selalu
merasa beruntung ketika melayani siapapun, dan senantiasa
mengutamakan kepuasan rasa ketika berbuat baik kepada saudara seiman.
Segera memalingkan pemikirannya dari pikiran negatif. Ia sangat baik
mendidik anak-anaknya (penuh kasih sayang), dengan sabar membimbing
dan menumbuhkan mereka dengan cinta kepada Allah dan RasulNya. Selalu
mengambil ilmu yang bermanfaat dan selalu berbuata yang baik
(bermanfaat). Menjauhkan sejauh-jauhnya perasaan ghil, hasad, dengki,
dan emosi serta selalu memalingkan pandangannya dari sesuatu yang
tidak bermanfaat untuk akhiratnya.
”Dan
hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang
berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang
jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung)
keselamatan”.
(al-Furqan 63)
Awali
Harimu dengan Rasa Cinta
Ketika
di pagi hari cintailah pagi harimu, ketika
dihari kerjamu cintailah pekerjaanmu, ketika di siang hari cintailah
siang harimu, ketika di sore hari cintai sore harimu, ketika di malam
hari cintailah malam harimu, sehingga tidak ada waktu yang luput dari
rasa cinta yang mendalam. Demikian juga ketika bersama keluarga
cintailah keluaragamu, orang-tua, istri,
anak-anak, mertua dan keluarga besarmu. Cintai pula saudara-saudaramu
seiman, cintailah amanah dakwahmu, cintailah mereka yang ingin
menegakkan kebenaran, dan cintailah jamaah-jamaah yang berupaya
menegakkan agama Allah. Oleh karena itu, pastikan dalam dirimu tidak
ada sedikitpun kebencian, kedengkian sebesar apapun, dan rasa malas
kepada apa yang baik dan kepada siapa saja yang berbuat baik.
Tanamkan pula dalam diri kita kecemburuan atas orang-orang yang
shaleh dan berupayalah untuk meneladaninya.
Ikhwah
fillah... tentu semua itu harus diawali dengan kecintaan kita kepada
Allah, dan sangat lebih cinta kita dibandingkan dengan yang lain,
mencitai RasulNya dan mencintai din-Nya lebih dari mencintai diri
kita sendiri.
Orang
mukmin seperti inilah yang merdeka bebas karena semua bukan merupakan
beban tetapi merupakan kepuasan dirinya dan akahirnya akan sangat
merindukan, hari-harinya, merindukan keluarganya, merindukan
pekerjaanya, merindukan saudara-suadaranya seiman, merindukan
tugas-tugas dakwahnya, merindukan tegaknya
Islam di muka bumi dan yang terbesar kerinduannya adalah rindu
bertemu dengan Rabb-Nya.
”Katakanlah:
Sesungguhnya Aku Ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan
kepadaku: "Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang
Esa". barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka
hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia
mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".
(al-Kahfi 110)
Tumbuhkan
Selalu Semangat dan Keberanian
Perhatikan
semangat al-Fatih ketika menaklukan Qanstantiniah, saat itu dia
dengan pasukannya sedang terjepit dipinggir hutan. Sementara dipihak
musuh selalu melampari mereka dengan anak panah dari api dan
terbakarlah hutan tersebut. Bahkan hampir-hampir api itu membakar
pasukannya. Tetapi al-Fatih tidak gentar kemudian menyerukan kepada
pasukannya: ”Wahai Para mujahidin,
jadilah kalian jundullah dan jadilah kalian orang-orang yang menjaga
agama Islam”. Pada akhirnya terbakar semangat pasukannya dan mereka
menyebarangi hutan yang sangat berbahaya hingga beberapa hari dalam
pertempuran tersebut dan kemenangan pun diraihnya.
Akhi...
saya mendengar sebuah cerita seorang Muslim
Palestina yang cukup menjadi pelajaran bagi kita. Ada sebuah keluarga
ketika baru saja rumahnya dibombardir oleh Yahudi laknatullah,
mulailah seorang ayah memperbaiki rumahnya tetapi belum sampai
sempurna bangunannya, kembali tentara Yahudi menghujaninya dengan
bom. Hal demikian berulangkali, sampai pada suatu saat salah satu
anaknya memberikan usul kepada ayahnya. ”Wahai Ayah. Tidak perlulah
dilanjutkan bangunan rumah kita ini”. Ayah dengan rasa terkejut
menimpali perkataan anaknya; ”Lantas kita akan tinggal di mana?”
Spontan anak tersebut menjawab; ”Lebih baik kita tinggal di surga
saja yang penuh dengan kedamaian”. Kemudian dipeluknya anak dengan
kegaguman, baru berumur 9 tahun tetapi pola pikir sudah dewasa,
aqidah bersih dan murni. Terbersit dalam dirinya semangat dan
keberanian untuk menegakkan kebenaran walaupun taruhannya nyawa dan
tegar menghadapi segala tantangan dalam hidupnya serba tidak pasti.
Akhi
...fillah. Alhamdulillah negeri kita dalam keadaan aman, kehidupan
kita cukup untuk mempertahankan keluarga kita, peluang terbentang
dihadapan kita dan tantangan yang kita hadapi tidak seberat
sebagaimana cobaan saudara kita yang lain. Tetapi kenapa tadhiyah
kita lemah? Kenapa semangat kita menurun? Allah akan tersenyum kepada
hambanya apabila dalam kesulitan tetapi dia senantiasa berusaha untuk
berbuat kebaikan. Rahmat-Nya pun sangat luas dan pengampunan-Nya
sangat luas juga. Oleh karenanya dalam sebuah hadits Nabi saw; bahwa
rasa senangnya Allah bagi hambaNya yang bertaubat dari kesalahan
melebihi seseorang yang kehilangan perbekalan bersama ontanya yang
hilang disebuah padang pasir/hutan kemudian mendadak mendatangi
dirinya setelah letih mencarinya kemana-mana.
Pelihara
Keshalehan
Shaleh
itu adalah apabila seseorang itu mampu merealisasikan hak-hak dirinya
dengan orang lain dengan baik dan merealisasikan hak-hak dirinya
dengan Rabbnya dengan baik pula. Oleh karenanya mewujudkan lingkungan
yang mendukung kebenaran adalah menjadi suatu tuntutan mutlak bagi
seorang mukmin. Demikian juga bersamanya dirinya dalam sebuah
lingkungan yang mencintai kebenaran adalah juga mutlak, dan akan
lebih baik walaupun di dalamnya mungkin belum terlalu ideal atau
diantara mereka terdapat perbedaan pendapat. Tetapi walau demikian
Usrah adalah tetap merupakan tempat terbaik –karena telah
melahirkan pribadi-pribadi ikhlas, diantara mereka telah syahid,
diantara mereka masih tetap tegar keluar masuk penjara dan
keluarga-keluarga mereka cerminan pribadi yang mencintai kebenaran-
apabila dibandingkan dengan sifat idealis kita. Allah dan RasulNya
mencintai hambanya yang berjamaah dalam kebenaran. Oleh karenanya
Allah menetapkan dalam syari’atNya bahwa hidup berjamaah merupakan
ajaran yang tsawabith
(ajaran yang bersifat mutlak tidak bisa dirubah), hal ini telah
dicontahkan oleh Rasul saw dan para sahabatnya. Berarti berjamaah
bagi seorang muslim adalah tuntutan syatri’at, yaitu tidak boleh
ditinggalkan, karena kewajibannya seperti mengerjakan shalat. Bukan
suruhan murabbi, bukan instruksi naqib dan bukan pula qarar dari
jamaah, tetapi memang tuntutan asasiah seorang muslim sebagai hamba
Allah. Maka murabbi, naqib dan jamaah adalah memberikan sarana agar
aktifitas seorang muslim itu terarah dan bermanfaat bagi orang lain.
Akhi
fillah... Umat Islam –secara hakiki- saat
ini sangat membutuhkan bantuan kita, mereka merintih membutuhkan
pertolongan. Mereka beradaan dalam kelemahan aqidah, keteledoran
dalam akhlak, mereka tercerai berai dan mereka pula tidak memiliki
arah hidup yang jelas. Sementara antum dan diantara antum memiliki
potensi yang sangat bermanfaat bagi orang lain, tetapi barangkali
antum tidak menyadarinya. Oleh karena saya mengajak antum untuk
memaksimalkan potensi itu. Jangan merasa tidur nyenyak, sementara
saudara-saudara kita yang lain hidup dalam kegelisahan karena
kekeroposan aqidah, kegelisahan dalam penindasan orang lain.
Terakhir,
mari kita berharap kepada Allah agar kita, keluarga kita dan
suadara-suadara kita seiman dikuatkanNya dalam meniti jalan kebenaran
hingga sampai kesuksesan cita-cita diakhir hayat kita. Wallahu a’lam
bishawab.
Afwa
minkum. Akhukum fillah Sujiat.
Wassalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Kairo,
2 Shafar 1429/9 Pebruari 2008