| Tak semua permasalahan sosial bisa diselesaikan di meja parlemen. Padahal, persoalan pelayanan, kesejahteraan, pemerintahan dan politik, merupakan masalah yang harus segera dituntaskan. |
| Ketua Komisi B Bidang Perekonomian dan Keuangan DPRD Makassar, Irwan ST, mengatakan, dari semua masalah yang ada, masih saja ada hal yang tak bisa diselesaikan dengan kata dan rek |
"Fungsi sebagai kontrol pemerintahan belum bisa dilaksanakan sepenuhnya. Masih banyak yang belum bisa diselesaikan dan menjadi beban tersendiri. Banyak persoalan bangsa yang tidak bisa diungkapkan di ruang aspirasi," ujar Irwan, kepada Upeks di Makassar, Jumat (16/9). Agar tak jadi beban, semua aspirasi masyarakat Irwan tuangkan dalam tulisan kritik nakal. "Banyak permasalahan di Makassar ini yang tak bisa hanya diselasaikan dengan kata. Untuk melampiaskan hal itu, buah pikiran kecil itu saya tuangkan ke dalam tulisan di dunia maya, melalui blog dan jejaring sosial," tuturnya. Irwan membagi tiga hal permasalahan dengan kumpulan tulisan yang berbeda. Antara lain, www.insipirasibangirwan.blogspot.com berisi tentang motivasi, www.catatanbangirwan.blogspot.com membahas soal pemerintahan, dan www.refleksibangirwan.blogspot.com tentang politik serta blog untuk kader PKS. "Semua blog dan jejaring sosial ada segmennya masing-masing," terangnya. Dalam salah satu tulisannya, Irwan mempertanyakan siapa yang memiliki Makassar. Tulisan tersebut berawal, ketika ia sedang makan di warung coto. Sedang asyik makan, masuk dua siswa SMA yang memiliki mobil mewah dan duduk di dekatnya. Kedua siswa SMA yang berkulit pulih dengan mata sedikit sipit bercerita tentang sejumlah pembangunan proyek besar di Makassar, seperti di kawasan tanjung, hotel, hingga pembangunan karebosi. "Semua bangunan yang merubah wajah Makassar tersebut, ayahnya yang membangunnya. Untuk mengungkapkan ekspresi, pikiran dan sejumlah gagasan, saya tuangkan juga melalui jejaring sosial twitter, dengan akun @bangirwan. Disinilah semua tulisan kritik nakal saya," ungkapnya. Ketua DPD PKS Kota Makassar ini, menuturkan, dirinya juga pernah diajak seorang teman untuk mengkampanyekan pengganyangan terhadap koruptor. "Kata teman saya, jika hal ini diterapkan, akan memberikan efek psikologis bagi pelaku korupsi. Sebab, semua anggota keluarganya akan ikut menanggung beban," paparnya. () |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar