Nasib, suratan takdir memang tidak bisa diprediksikan. Milik dan Hak Allah swt sepenuhnya. Pita berwarna hijau itu membuatku tertegun. Ia kudapatkan ketika mengisi salah satu kajian di Kampus Universitas Riau. Dalam setiap kajian biasanya ada buah tangan berupa buah-buahan yang dibungkus (diparsel) sedemikian rupa. Dan, pita itulah yang menjadi pengikatnya. Sebuah pita yang sederhana sekali.
Ketika berangkat kemarin ke Jakarta dalam rangkaian perjalanan muhibah dakwah bersama ust. Sofyan Siroj, pita imut itu selalu menyertai tali laptop saya. Sampai ketika kita akan memberikan oleh-oleh maktabah Al-Kubra untuk ust. Anis matta nasib pita itu berubah. Karena mendesaknya waktu jadilah pita itu menjadi pengikat antara hardisk eksternal, brosur, surat dan cd programnya, supaya tidak lepas.
Saya pegang pita itu dengan penuh perasaan, entahlah.... saya merasa berat berpisah dengannya. Pita itu bukti dalam perjuangan dakwah ini. Setelah kuikat dengan rapi, kubuat berbentuk kupu-kupu ujung yang masih bisa diikat. Pita berwarna hijau itu memang imut. Dan ia semakin imut-imut.
Besok paginya kami titipkan oleh-oleh itu pada pak Agun ketua fraksi Golkar di DPR. Semoga pita itu sampai di tangan ust. Anis Matta. Lalu pita itu selalu menjadi saksi berkembangnya dakwah di nusantara dan di dunia ini.
Terakhir pintaku dengan tulus kepada Allah swt. Semoga diakhirat kelak pita itu bisa menjadi saksi semua amal dakwah Dai yang pernah di lihatnya. Dan dikembalikan kembali kepadaku. Selamat berjumpa kembali pita hijau yang imut. Doakan saya selalu istiqomah di jalan-Nya. Amien.
(Kamar 418, Comfort Hotel, Tanjung Pinang, Ba’da subuh, Rabu 11 Sya’ban 1432 H/ 13 Juli 2011 M, 05:35:06 WIB)
Edy S
Tidak ada komentar:
Posting Komentar